Laman

2 Okt 2007

Kenapa saat mencintai harus..

Tidak sengaja, tadi sempat teringat masa-masa lalu, yang rasanya sudah [harus] terlupakan. Tapi entah mengapa muncul lagi. Masa-masa dengan seorang yang dengannya muncul cinta untuk pertama kali. At least, not more than 3 years ago...hehehe...
..
Ketika perasaan itu muncul, sering kali dirasakan sesuatu yang berharga menjadi milik kita seorang. Tidak ada orang lain yang berhak untuk memilikinya. Tidak ada orang lain yang berhak untuk mencampuri urusannya. Perasaan yang kemudian bisa menimbulkan kecemburuan. Kata orang, itu sih bumbu, tapi entah mengapa saya sering mengartikannya sebagai suatu hal yang lain, yang berbeda dari orang pikirkan.
..
Perasaan cemburu yang ditambahi dengan keinginan dan pemikiran pribadi sering membuat seseorang berpikiran tidak obyektif. Subyektif memang perlu, demi sebuah alasan waspada. Tapi waspada tidaklah berarti harga mati untuk sebuah cinta.
..
Benar apa kata orang tua dulu, jangan terlalu mencintai atau jangan terlalu membenci. Ketika kita sudah terlalu, maka kadar obyektiftas kita berkurang. Ketika kadar obyektifitas kita berkurang, maka kadar subyektifitas naik dengan pesat. Dan kadar subyektifitas ini bisa mengarahkan pada kemarahan, rasa dendam dan ribuan rasa yang sebenarnya tidak perlu.
..
Ketika kita sudah "terlalu", maka kita tidak lagi mempunyai batas-batas akan sesuatu hal. Kita bahkan tidak bisa lagi menilai diri kita secara obyektif. Kita menilai diri kita terlalu mengada-ada. Ketika kita pakai standar itu, karena kadar subyektifitas sudah terlalu besar, maka apa yang terjadi adalah kesalahpahaman.
..
Namun untuk menyadari kesalahpahaman ini dibutuhkan waktu dan pemikiran yang jernih dengan cara menghilangkan subyektifitas tersebut. Sesuatu yang sulit dilakukan dikala marah, dikala kita masih memegang sesuatu yang kita sebut sebagai "terlalu" tersebut.
..
Yah, seringkali di kala kita sedang "hangat-hangatnya" mencintai seseorang, apa yang disebut badai itu datang. Kita melihat sebuah realita lain bahwa orang yang kita cintai ternyata mempunyai sesuatu yang "di-share" dengan orang lain, walau itu belum tentu seperti apa yang terlihat. Namun karena kita sudah mempunyai pandangan bahwa sesuatu itu tidak boleh dibagi, maka muncul kemarahan, dimana kemudian menutupi sebuah obyektifitas.
..
Kita lupa bahwa apa yang nampak tidak selalu merupakan intisari dari apa yang sebenarnya ada. Bahwa sebenarnya hatinya belum "terbagi" untuk yang lain. Tapi kita sudah terlanjur tertutupi oleh "kemarahan" kita, oleh perasaan subyektifitas kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Pesan Anda disini..