Laman

5 Jan 2009

PENGENALAN PROGRAM JAVA




Program Java umumnya dikerjakan dalam 5 tahapan:

  1. Edit, Programmer menulis program dan menyimpannya di disk
  1. Compile, Compiler membentuk bytecodes dari program
  1. Load, Class loader meload bytecodes ke memori
  1. Verify, Verifier memastikan bytecodes tidak mengganggu sistem sekuriti Java
  1. Execute, Interpreter menerjemahkan bytecodes ke bahasa mesin


Sebelum membuat Program Java :

Setiap program Java harus memiliki paling sedikit satu user-defined class

Keyword class diikuti oleh nama class

Java membedakan antara huruf besar dan huruf kecil (case sensitive)

Ketika menyimpan program, nama file program harus sama dengan nama class dengan menambahkan ekstensi .java

Aplikasi Java berisi satu atau beberapa method

Method dapat menjalankan task dan mengembalikan informasi

void berarti method tidak mengembalikan informasi

Paling sedikit harus ada sebuah method yang bernama main

Aplikasi Java mulai mengeksekusi dari method main

Setiap perintah harus diakhiri dengan tanda titik koma ;


Hello.java

Program Java Pertamaku

class Hello {

public static void main(String args[]) {

System.out.println("Hello, my name is Java. Priye kabare mas ?");

}

}

Catatan : Ketik program di atas dengan Editor seperti JCreator, Notepad, EditPlus, Edit dsb dan simpan dengan nama file “Hello.java”


Mengompile dan menjalankan Program Java dengan JCreator

Build > Compile File

Jika proses Compile berhasil maka akan ditampilkan



Untuk menjalankan program pilih menu :

Build > Execute File




Output program “Hello.java”




Mengompile dan menjalankan Program java melalui Command Line

Compile program dengan perintah “javac



Menjalankan dengan perintah “java




Variabel Dalam Java

Variabel.java

Program penggunaan Variabel dalam Java

class Variabel {

public static void main(String args[ ]) {

System.out.println("\nContoh Penggunaan variable\n");

//ini salah satu contoh variable di dalam java

int nilai = 12;

char karakter = 'b';

String tulisan = "I love Java";

double pecahan=123.345;

Float pecah = new Float(14.353);

System.out.println("variable int = "+nilai);

System.out.println("variable char = "+karakter);

System.out.println("variable String = "+tulisan);

System.out.println("variable double = "+pecahan);

System.out.println("Pecahan = " + pecah.toString());

System.out.println("Maximal float = " + pecah.MAX_VALUE);

System.out.println(“Minimal float = “ + pecah.MIN_VALUE);

}

}


Operator Aritmatika dan Relasi

Aritmatika.java

Program Operator Aritmatika dalam Java

class Aritmatika {

public static void main(String args[]) {

int x = 15;

int y = 4;

System.out.println("Nilai x+y : " +(x+y));

System.out.println("Nilai x-y : " +(x-y));

System.out.println("Nilai x/y : " +(x/y));

System.out.println("Nilai x*y : " +(x*y));

}

}


Modulus.java

Program Operator Modulus dalam Java

class Modulus {

public static void main(String args[]) {

int bilangan = 25;

System.out.println("Hasil " +bilangan+ " % 4 = " +(bilangan % 4));

System.out.println("Hasil " +bilangan+ " % 9 = " +(bilangan % 9));

System.out.println("Hasil " +bilangan+ " % 13 = " +(bilangan % 13));

System.out.println("Hasil " +bilangan+ " % 40 = " +(bilangan % 40));

}

}


Diskriminan.java

Program Java menghitung nilai Diskriminan suatu persamaan kuadrat

class Diskriminan {

public static void main(String args[]) {

Integer a = new Integer(1);

Integer b = new Integer(3);

Integer c = new Integer(-4);

int D;

//mencari nilai Diskriminan

D = ((b.intValue()*b.intValue()) - (4*a.intValue()*c.intValue()));

System.out.println("Nilai determinan dari persamaan kuadrat :");

System.out.println("a = " + a.intValue());

System.out.println("b = " + b.intValue());

System.out.println("c = " + c.intValue());

System.out.println("adalah " + D);

}

}


Increment.java

Program untuk operator Increment variabel dalam Java

class Increment {

public static void main(String args[]) {

int a=4;

System.out.println("Nilai a = "+a);

System.out.println("Nilai a menjadi = "+ (a++));

System.out.println("Nilai a menjadi = "+ (++a));

}

}

Relasi.java

Program untuk operator Relasi dalam Java

class Relasi {

public static void main(String args[]) {

int a = 10;

int b = 4;

System.out.println("Relasional");

System.out.println("a > b = " +(a>b));

System.out.println("a < b =" ">

System.out.println("a = b = " +(a==b));

System.out.println("a != b= " +(a!=b));

}

}


Program Input

Input.java

Program menginput String dan bilangan dalam Java

import java.io.*;

class Input{

public static void main(String args[]) throws IOException{

//metoda untuk mengakse string (BuffereadReader)

String coba;

System.out.print("Masukan String : ");

BufferedReader tulis = new BufferedReader(new InputStreamReader (System.in));

coba = tulis.readLine();

System.out.println("String Yang dimasukan : "+coba);

System.out.print("Masukan Integer : ");

int data = (new Integer( (new BufferedReader (new

InputStreamReader (System.in))).readLine()).intValue());

System.out.println("Masukan integer : "+data);

//metoda untuk megakses string (DataInputStream)

System.out.print("Masukan sebuah string : ");

DataInputStream masukan = (new DataInputStream(System.in));

String cobaah = new String(masukan.readLine());

System.out.println("String Yang dimasukan : "+cobaah);

}

}


Input2.java

Program Inputan menggunakan Java Swing

import javax.swing.*;

class Input2 {

public static void main(String args[ ]) {

//metode untuk mengakses string (JOptionPane)

String masukan1 = "";

masukan1 = JOptionPane.showInputDialog("Masukan String : ");

System.out.println("Masukan String : "+masukan1);

JOptionPane.showMessageDialog(null,masukan1);

}

}


Konsep Dasar OOP

Apa sih OOP?
OOP (Object Oriented Programming) adalah suatu metode pemrograman yang berorientasi kepada objek. Tujuan dari OOP diciptakan adalah untuk mempermudah pengembangan program dengan cara mengikuti model yang telah ada di kehidupan sehari-hari. Jadi setiap bagian dari suatu permasalahan adalah objek, nah objek itu sendiri merupakan gabungan dari beberapa objek yang lebih kecil lagi. Saya ambil contoh Pesawat, Pesawat adalah sebuah objek. Pesawat itu sendiri terbentuk dari beberapa objek yang lebih kecil lagi seperti mesin, roda, baling-baling, kursi, dll. Pesawat sebagai objek yang terbentuk dari objek-objek yang lebih kecil saling berhubungan, berinteraksi, berkomunikasi dan saling mengirim pesan kepada objek-objek yang lainnya. Begitu juga dengan program, sebuah objek yang besar dibentuk dari beberapa objek yang lebih kecil, objek-objek itu saling berkomunikasi, dan saling berkirim pesan kepada objek yang lain.

Apa sih Objek (Object)
Setiap objek memiliki dua karakteristik yaitu Attribute (State) dan Behavior. Attribute (State) merupakan identitas atau informasi objek itu sendiri atau disebut juga sebagai variable, sedangkan Behavior adalah tingkah laku atau apa yang dapat dilakukan oleh objek itu atau disebut juga sebagai method.
Sebagai contoh Attribute (State) dari pesawat adalah nama pesawat, tipe, warna, tahun produksi, roda, dll. Sedangkan Behavior dari pesawat adalah cara menghidupkan mesin, cara menerbangkan pesawat (take off), cara menurunkan pesawat (landing), dll.

Apa sih Kelas (Class)
Kelas merupakan cetakan atau blueprint atau prototype, hasil dari cetakan itu disebut objek. Contoh pesawat Boeing 737 dibuat dengan rancangan yang sama, rancangan pesawat ini disebut kelas. Hasil rancangan itu menjadi pesawat Boeing 737 yang disebut objek. Pesawat-pesawat hasil rancangan tadi bisa memiliki warna, nama yang berbeda-beda tergantung perusahaan penerbangannya. Disini jelas bahwa objek memiliki sifat independen. Objek adalah instance dari kelas, satu kelas bisa memiliki beberapa objek



Internet Indonesia: Sejarah, Saat Ini & Mendatang

Awal Perjuangan Internet Indonesia

RMS Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto merupakan beberapa nama-nama legendaris di awal pembangunan Internet Indonesia yang mungkin kurang banyak dikenal oleh khalayak Internet Indonesia di abad 21. Masing-masing personal telah mengkontribusikan keahlian dan dedikasinya dalam membangun cuplikan-cuplikan sejarah jaringan komputer di Indonesia. Pada waktu itu di awal tahun 1990-an jaringan Internet di Indonesia lebih dikenal sebagai paguyuban network. Semangat kerjasama, kekeluargaan & gotong royong sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya. Agak berbeda dengan suasana Internet Indonesia hari ini yang terasa lebih komersial dan individual di sebagian aktifitasnya terutama yang melibatkan perdagangan Internet.

Tulisan-tulisan tentang keberadaan jaringan Internet di Indonesia dapat di lihat di beberapa artikel di media cetak seperti KOMPAS berjudul "jaringan komputer biaya murah menggunakan radio" di akhir tahun 1990 / awal 1991-an. Juga beberapa artikel pendek di Majalah Elektron Himpunan Mahsiswa Elektro ITB di tahun 1989-an. Kebetulan saya adalah penulis sebagian dari artikel-artikel tersebut. Tidak terasa waktu demikian cepat berlalu, tanpa terasa hal itu telah melewati kita semua lebih dari 10 tahun yang lalu.

Inspirasi tulisan-tulisan awal Internet Indonesia datangnya dari kegiatan kami di amatir radio khususnya rekan-rekan di Amatir Radio Club (ARC) ITB di tahun 1986-an. Bermodal pesawat Rig HF SSB Kenwood TS430 milik Harya Sudirapratama YC1HCE dengan komputer Apple II milik Onno W. Purbo YC1DAV (sekarang YC0MLC) sekitar belasan anak muda ITB seperti Harya Sudirapratama YC1HCE, J. Tjandra Pramudito YB3NR (sekarang dosen di UNPAR), Suryono Adisoemarta N5SNN (sekarang dosen di Texas,US) bersama Onno W. Purbo YC1DAV (sekarang YC0MLC) kami berguru pada para senior amatir radio seperti Robby Soebiakto YB1BG, Achmad Zaini YB1HR, Yos YB2SV, YB0TD di band 7MHz dengan panjang gelombang 40meter. Mas Robby Soebiakto YB1BG merupakan suhu diantara para amatir radio di Indonesia khususnya untuk komunikasi data packet radio yang kemudian di dorong ke arah TCP/IP, teknologi packet radio TCP/IP yang kemudian di adopsi oleh rekan-rekan BPPT, LAPAN, UI, & ITB yang kemudian menjadi tumpuan PaguyubanNet di tahun 1992-1994-an. Mas Robby Soebiakto YB1BG adalah koordinator IP pertama dari AMPR-net (Amatir Packet Radio Network) yang di Internet dikenal dengan domain AMPR.ORG dan IP 44.132. Saat ini AMPR-net Indonesia di koordinir oleh penulis Onno W. Purbo YC0MLC. Koordinasi dan aktifitas-nya mengharuskan seseorang untuk menjadi anggota ORARI dan di koordinasi melalui mailing list orari-news@yahoogroups.com.

Di tahun 1986-1987-an awal perkembangan jaringan paket radio di Indonesia Mas Robby YB1BG juga merupakan pionir dikalangan teman-teman amatir radio Indonesia yang mengkaitkan jaringan amatir Bulletin Board System (BBS) yang merupakan jaringan e-mail store and forward yang mengkaitkan banyak "server" BBS amatir radio seluruh dunia agar e-mail dapat berjalan dengan lancar. Di awal tahun 1990-an komunikasi antara saya yang waktu itu berada di Canada dengan panggilan YC1DAV/VE3 rekan-rekan amatir radio di Indonesia dilakukan melalui jaringan amatir radio ini. Dengan peralatan PC/XT dan walkie talkie 2 meteran, komunikasi antara Indonesia-Canada terus dilakukan dengan lancar melalui jaringan amatir radio. Mas Robby YB1BG ternyata berhasil membangun gateway amatir satelit di rumahnya di Cinere melalui satelit-satelit OSCAR milik amatir radio kemudian kami melakukan komunikasi lebih lanjut yang lebih cepat antara Indonesia-Canada. Pengetahuan secara perlahan di transfer melalui jaringan amatir radio ini.

RMS Ibrahim (biasa dipanggil Ibam) motor dibalik operasional-nya Internet di UI, saat tulisan ini ditulis berada di Singapura untuk meneruskan S3. Ibam pernah menjadi operator yang menjalankan gateway ke Internet dari UI yang merupakan bagian dari jaringan universitas di Indonesia UNINET. Protokol UUCP yang lebih sederhana daripada TCP/IP digunakan terutama digunakan untuk mentransfer e-mail & newsgroup. RMS Ibrahim juga merupakan pemegang pertama Country Code Top Level Domain (ccTLD) yang dikemudian hari dikenal sebagai IDNIC (http://www.idnic.net.id).

Muhammad Ihsan adalah staff peneliti di LAPAN Ranca Bungur tidak jauh dari Bogor yang di awal tahun 1990-an di dukung oleh kepala-nya Bu Adrianti dalam kerjasama dengan DLR (NASA-nya Jerman) mencoba mengembangkan jaringan komputer menggunakan teknologi packet radio pada band 70cm & 2m. Jaringan tersebut dikenal sebagai JASIPAKTA dengan dukungan DLR Jerman. Protokol TCP/IP di operasikan di atas protokol AX.25 pada infrastruktur packet radio. Pak Ihsan ini yang mengoperasikan relay penghubung antara ITB di Bandung dengan gateway Internet yang ada di BPPT.

Pak Firman Siregar merupakan salah seorang motor di BPPT yang mengoperasikan gateway packet radio bekerja pada band 70cm. PC 386 sederhana menjalankan program NOS di atas sistem operasi DOS digunakan sebagai gateway packet radio TCP/IP. IPTEKNET masih berada di tahapan sangat awal perkembangannya saluran komunikasi ke internet masih menggunakan X.25 melalui jaringan SKDP terkait pada gateway di DLR Jerman.

Putu sebuah nama yang melekat dengan perkembangan PUSDATA DEPRIN waktu masa kepemimpinan Pak Tungki Ariwibowo menjalankan BBS pusdata.dprin.go.id yang hingga saat ini masih beroperasi. Di masa awal perkembangannya BBS Pak Putu sangat berjasa dalam membangun pengguna e-mail khususnya di jakarta Pak Putu sangat beruntung mempunyai menteri Pak Tungki Ariwibowo yang "maniac" IT dan yang mengesankan dari Pak Tungki beliau akan menjawab e-mail sendiri. Barangkali Pak Tungki adalah menteri pertama di Indonesia yang menjawab e-mail sendiri. Saya sempat terkagum-kagum memperoleh jawaban e-mail dari seorang menteri Pak Tungki yang waktu itu sedang berada di Amerika Selatan dalam kunjungan kerjanya. Bukan main, seorang menteri tapi tetap menyempatkan diri untuk membalas e-mail.

Mas Suryono Adisoemarta N5SNN di akhir 1992 kembali ke Indonesia, kesempatan tersebut tidak dilewatkan oleh anggota Amatir Radio Club ARC ITB seperti Basuki Suhardiman (sekarang di AI3 ITB), Aulia K. Arief (sekarang di WAHID), Arman Hazairin (sekarang di Telkomsel) di dukung oleh Adi Indrayanto (sekarang S3 di Inggris) untuk mencoba mengembangkan gateway packet radio di ITB. Berawal semangat & bermodalkan PC 286 bekas barangkali ITB merupakan lembaga yang paling miskin yang nekad untuk berkiprah di jaringan PaguyubanNet. Rekan lainnya seperti UI, BPPT, LAPAN, PUSDATA DEPRIN merupakan lembaga yang lebih dahulu terkait ke jaringan di tahun 1990-an mereka mempunyai fasilitas yang jauh lebih baik daripada ITB. Di ITB modem packet radio berupa Terminal Node Controller (TNC) merupakan peralatan pinjaman dari Muhammad Ihsan dari LAPAN.

Jaringan Pendidikan Kunci Perkembangan Internet

Berawal dari teknologi packet radio 1200bps di atas, ITB kemudian berkembang di tahun 1995-an memperoleh sambungan leased line 14.4Kbps ke RISTI Telkom sebagai bagian dari IPTEKNET akses Internet tetap diberikan secara cuma-cuma kepada rekan-rekan yang lain. September 1996 merupakan tahun peralihan bagi ITB, karena keterkaitan ITB dengan jaringan penelitian Asia Internet Interconnection Initiatives (AI3) sehingga memperoleh bandwidth 1.5Mbps ke Jepang yang terus ditambah dengan sambungan ke TelkomNet & IIX dengan kapasitas bandwidth yang besar. ITB akhirnya menjadi salah satu bagian terpenting dalam jaringan pendidikan di Indonesia yang menamakan dirinya AI3 Indonesia yang mengkaitkan banyak lembaga pendidikan di Indonesia.

Jaminan kemajuan Indonesia sebetulnya terletak pada kemampuan kita memandaikan bangsa Indonesia. Pernahkah anda membayangkan jika seluruh sekolah di Indonesia, 220.000+ sekolah di Indonesia terkait ke Internet? Pernahkah anda membayangkan seluruh siswa di Indonesia, 38+ juta siswa Indonesia menjadi pandai dan menjadi bagian dari masyarakat informasi dunia?

Gila-nya jika kita cukup pandai seluruh proses ini hanya membebani siswa sebesar Rp. 1000-3000 / bulan / siswa. Beberapa inisiatif kunci untuk membuat para siswa Indonesia menjadi pandai antara lain adalah:

  • Di mulai bulan Mei 1999, program Sekolah 2000 yang diprakarsai oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) http://www.sekolah2000.or.id/ mulai beranjak untuk mengkaitkan banyak sekolah di Indonesia ke Internet.
  • One School One Lab. (OSOL) yang mengkaitkan sekitar 40 sekolah di Indonesia di bawah koordinasi Menteri Negara Komunikasi & Informasi http://www.kominfo.go.id.
  • Berawal sekitar tahun 2000, Pendidikan Menengah Kejuruan (DIKMENJUR) http://www.dikmenjur.net barangkali merupakan kisah paling sukses dalam menyambungkan 4000+ sekolah kejuruan ke Internet. Komunitas mereka dapat di monitor di dikmenjur@yahoogroups.com, wankota@yahoogroups.com dll.
  • Belakangan di bulan April 2004, PT. Telekomunikasi Indonesia mulai menggelar program Internet Goes To School (IG2S) untuk membantu sekolah di Indonesia agar terkait ke Internet. Buku tentang hal ini telah di terbitkan oleh Andi Offset Jogyakarta. Teknik membuat mail server yang memungkinkan penghematan biaya Internet di jelaskan secara mudah di http://www.bogor.net/igts/.
  • IlmuKomputer.com http://www.ilmukomputer.com menjadi sebuah legenda di tahun 2004, karena keberhasilannya dalam usaha menghimpun dan menyebarkan ilmu computer kepada masyarakat secara murah.

Mailing List Indonesia

Di tahun 1989-1990-an, teman-teman mahasiswa Indonesia di luar negeri mulai membangun tempat diskusi di Internet, salah satu tempat diskusi Indonesia di Internet yang pertama berada di indonesians@janus.berkeley.edu. Berawal dari mailing list pertama di Janus diskusi-diskusi antar teman-teman mahasiswa Indonesia diluar negeri pemikiran alternatif berserta kesadaran masyarakat ditumbuhkan. Pola mailing list ini ternyata terus berkembang dari sebuah mailing list legendaris di janus, akhirnya menjadi sangat banyak sekali mailing list Indonesia terutama di host oleh server di ITB & yahoogroups.com. Mailing list ini akhirnya menjadi salah satu sarana yang sangat strategis dalam pembangunan komunitas di Internet Indonesia.

Di tahun 2001, terdapat lebih dari 50.000 mailing list Indonesia di Internet. Tentunya hal ini akan memusingkan banyak ISP karena menyedot bandwidth Internasional.

Pada tanggal 3 Oktober 2003. Terlontar ide di e-mail untuk membuat mailing-list (milis) lokal, sehingga selain dapat memberdayakan potensi sumber daya manusia bangsa, juga dapat untuk menghemat bandwidth ke luar negeri. Selain itu, milis lokal tersebut bisa menjadi salah satu pilot project pengembangan komunitas Open Source Indonesia.

Akhirnya mulai tanggal 14 Oktober 2003 dikumpulkan dana untuk membeli mesin HP KAYAK P3-600 256M 15GB 48X CD-ROM, seharga Rp 1.695.000 yang dikoordinir oleh Donny B.U. Beberapa pihak yang ikut patungan antara lain Onno, Irwin, Bona, Donny B.U., David Sudjiman, Rio Martin, M. Ichsan, Nies Purwati, Rusmanto, I Made Wiryana, Mas Wigrantoro RS, Heru Nugroho, Anton, KPLI Jakarta, Nona dan satu orang anonimus. Pada tanggal 27 Oktober 2003, server tersebut akhirnya di install di lokasi NOC CBN dan selama dua (2) jam Onno & Bona menginstalasi software Linux Mandrake & mailman mailing list server.

Tanggal 31 Oktober 2003. Server mailing-list GROUPS.OR.ID telah lahir! Pada tanggal 1 Januari 2004, ada 1541 mailing list yang beroperasi di groups.or.id dengan 34.410 unik subscriber.

Penyelenggara Jasa Internet Indonesia

Di tahun 1994-an mulai beroperasi IndoNet yang dipimpin oleh Sanjaya. IndoNet merupakan ISP komersial pertama Indonesia pada waktu itu pihak POSTEL belum mengetahui tentang celah-celah bisnis Internet & masih sedikit sekali pengguna Internet di Indonesia. Seingat saya sambungan awal ke Internet dilakukan menggunakan dial-up oleh IndoNet, sebuah langkah yang cukup nekad barangkali. Lokasi IndoNet masih di daerah Rawamangun di kompleks dosen UI kebetulan ayah Sanjaya adalah dosen UI.

Menurut laporan yang ada di APJII http://www.apjii.or.id. Pada kwartal ke tiga 2003, status industri Internet di Indonesia adalah:

APJII mengelola fasilitas bersama, seperti,

  • APJII Indonesia Internet Exchange (IIX)
  • APJII IDNIC
  • Domain Registration & NIR (APNIC)

Pada kenyataannya, sebagian besar (60-70%) akses Internet di lakukan melalui falitas akses publik, termasuk WARNET dan jaringan sekolah. Yang perlu di garis bawahi ternyata bahwa sebagian besar aktifitas di dorong oleh swasta, bukan pemerintah. Jumlah pengguna Internet Indonesia hingga akhir tahun 2004 di perkirakan mencapai 12 juta pengguna.

Untuk mengurangi trafik internasional, APJII membentuk beberapa Indonesia Internet Exchange (IIX). Di Jakarta, paling tidak ada tiga (3) IIX, seperti di Cyber Building di Mampang, Jakarta, di Kuningan, dan di Gatot Subroto, di Gedung Telkom. Walaupun rasanya IIX di Gatot Subroto sekarang tidak aktif (dimatikan). Selain itu, beberapa IIX lokal seperti di Surabaya sudah mulai beroperasi pula. Dengan demikian, trafik lokal di masing-masing kota tidak lagi harus di lalukan ke Jakarta.

Seperti di laporkan oleh Johar Alam (johar@the.net.id) administrator dari Indonesia Internet Exchange (admin@iix.net.id) dan Heru Nugroho (hn@apjii.or.id), di awal Januari 2004, the total bandwidth puncak IIX mencapai 1.2Gbps. Karena bandwidth internasional trafik kira-kira tiga (30 kali bandwidth lokal, maka estimasi puncak bandwidth internasional adalah sekitar 3Gbps. Puncak bandwidth biasanya sekitar 70-80% maksimum bandwidth. Oleh karena itu, cukup aman bagi kita untuk mengatakan bahwa estimasi maksimum bandwidth ke Internet dari Indonesia sekitar 2Gbps.

Perbandingan volume trafik antara in-coming dan out-going adalah 1:10 karena Indonesia masih lebih banyak mengkonsumsi informasi & tidak memproduksi informasi.

Beberapa Kunci Strategis Perkembangan Internet Indonesia Kedepan.

Sebetulnya kunci perkembangan Internet di Indonesia maupun Negara berkembang lainnya relative sederhana, yaitu:

  1. Adanya massa orang yang pandai, usaha menyambungkan Internet bagi seluruh sekolah di Indonesia sedang berjalan dengan gigih.
  2. Ijin agar terbuka kemungkinan untuk membangun infrastruktur yang bertumpu pada kemampuan rakyat. Teknologi Internet sangat memungkinkan hal ini terjadi, karena harga peralatan Internet relatif murah dan relative mudah dioperasikan.

Pada saat ini yang paling terlihat kasat mata adalah Warung Internet (WARNET). Asosiasi-warnet@yahoogroups.com merupakan tempat berkumpul para penyelenggara WARNET di Indonesia. Pada tanggal 25 Mei 2000 merupakan hari bersejarah bagi rekan-rekan WARNET – karena telah lahir Asosiasi Warnet Indonesia (AWARI) yang ada secara fisik dalam pertemuan di kantor DIKMENJUR. Ketua Asosiasi Warnet adalah rekan Rudy Rusdiah, Bendahara rekan Adlinsyah dan Sekretaris Abdullah Koro. Pada saat ini (Tahun 2004), Presidium AWARI beranggotakan Ibu Judith MS, Pak Michael Sunggiardi dan Abdullah Koro.

Konfigurasi WARNET yang lebih menguntungkan pada hari ini adalah RT/RW-net yang memungkinkan penyambungan sebuah RT/RW 24 jam ke Internet. Secara financial akan membebani anggota sekitar Rp. 150-300.000 / bulan / rumah. Hal ini akan menjadi tumpuan Internet di Indonesia di masa mendatang. Biaya akan turun terus dengan semakin tersebarnya akses murah kepada rakyat.

Teknologi Wireless Internet menggunakan frekuensi 2.4GHz & 5.8GHz menjadi kunci dalam mengembangkan RT/RW-net ini. Alhamdullillah, dalam masa pemerintahan SBY Kabinet Bersatu, tampaknya pemerintah bersedia membebaskan frekuensi 2.4GHz, tapi belum mau membebaskan 5.8GHz. Semoga Keputusan Menteri tentang hal ini akan di tanda tangani pada awal Januari 2005. Hal ini akan memungkinkan pertumbuhan Internet Rakyat secara cepat dalam orde 200-500 instalasi per bulan.

Bangsa Indonesia pada dasarnya adalah bangsa yang lebih suka berbicara satu dengan lainnya, oleh karena itu teknologi VoIP akan menjadi primadona. Teknologi VoIP Merdeka (berbasis H.323) dan teknologi VoIP Rakyat http://www.voiprakyat.net (berbasis SIP) akan menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan komunikasi suara yang murah.

Demikian kilasan sejarah Internet di Indonesia, kami sadar bahwa perjuangan kami masih panjang. Masih banyak hal yang perlu diperjuangkan terus agar dapat menggerakan bangsa Indonesia menuju knowledge based society paling tidak melihat 110 juta bangsa Indonesia terkait ke Internet pada tahun 2015 (Onno W. Purbo).

Internet Sebagai Media Komunikasi

Internet dengan berbagai aplikasinya, seperti Web, VoIP, e-mail pada dasarnya merupakan media yang digunakan untuk mengeffisienkan proses komunikasi. Untuk dapat memaksimalkan penggunaan Web, ada baiknya kita telaah lebih dalam tentang kebutuhan komunikasi dari manusia.

Pada dasarnya manusia lebih tertarik untuk berdiskusi atau komunikasi dua arah, dan mencari informasi yang spesifik untuk keperluan diri-nya saat itu. Manusia pada dasarnya tidak terlalu tertarik untuk mencari informasi diluar dari apa yang dia sukai / butuhkan.

Menyesuaikan informasi dengan kebutuhan spesifik seseorang akan menjadi sulit apalagi dengan kebutuhan komunikasi interaktif dua arah. Hal ini akan menjadi mudah jika di lakukan dengan menggunakan e-mail dan komunikasi hanya dilakukan antar manusia saja. Akan tetapi tingkat kesulitan akan menjadi tinggi pada saat kita menggunakan Web sebagai perantara sumber informasi dengan pembaca-nya.

Sebagai seorang Web designer atau Web programmer, kita harus memfokuskan disain dari Web tersebut untuk memenuhi kebutuhan si pembaca. Beberapa mekanisme sederhana yang akan membantu, misalnya, site map, search engine, forum, e-mail ke customer service, knowledge management, dsb.

Saya pribadi bukanlah designer Web yang baik, karena Web saya sama sekali tidak menggunakan HTML, maupun script apapun baik ASP & PHP. Bisa dilihat di http://www.apjii.or.id/onno/, http://sandbox.bellanet.org/~onno/, http://onno.vlsm.org dan interaksi secara aktif di e-mail / mailing list.

Semoga bisa menjadi masukan bagi para designer Web untuk menyesuaikan Web dengan kebutuhan pembaca-nya (Onno W. Purbo)

Integrasi TI ke Kurikulum Nasional SD-SMU

Tampaknya DEPDIKNAS mulai bergerak memasukan teknologi informasi sebagai bagian dari kurikulum nasional. Bahkan seluruh SMU di Indonesia harus mengimplementasi Teknologi Informasi sebagai bagian dari kurikulum.

Satu hal yang saya rasakan sangat kuat pada saat pertemuan dengan Pusat Kurikulum Nasional adalah DIKNAS tampaknya seperti merasa bahwa urusan memasukan teknologi informasi ke sekolah adalah tanggung jawab penuh DIKNAS. Hal ini mungkin akan menjadikan kontra produktif jika secara institusi DIKNAS memaksakan semua terpusat di bawah DIKNAS tanpa kerjasama dengan berbagai inisiatif lain yang ada di Indonesia.

Perlu di catat bahwa sudah banyak inisiatif untuk komputerisasi & internetisasi untuk dunia pendidikan seperti Sekolah 2000 APJII, Internet Goes To School Telkom, One School One Lab (OSOL) Menkominfo tapi diantara sekian banyak inisiatif yang paling sukses harus di akui adalah inisiatif DIKMENJUR yang di komandani oleh DR. Gatot HP, direktur DIKMENJUR. Belum inisiatif besar lainnya seperti Indonesia Goes Open Source (IGOS) Menristek cs, PC-RI dll. Oleh karena tampaknya perlu sekali per-teman-an antar inisiatif agar terjadi sinergi saling menguntungkan untuk bangsa.

Tentunya semua bukannya tanpa kendala, memang infrastruktur tingkat SMU mungkin lebih siap di bandingkan dengan tingkat di bawahnya walaupun hanya segelintir SMU yang memiliki mesin FAX (misalnya). Sialnya, hanya 10% dari SMP ada listrik. Di tingkat SD kondisi lebih parah lagi, boro-boro listrik, gedung-pun sebagian akan ambruk. Belum lagi sedikit guru melek komputer, di tambah lingkungan yang gaptek. Masyarakat mungkin masih berfikir 2-3 kali untuk menyisihkan uang untuk komputer, lebih baik untuk membeli makan dan keperluan sehari-hari. Jadi sebetulnya kita menghadapi kondisi yang parah di tingkat bawah.

Ada beberapa filosofi mendasar yang saya usulkan untuk di perhatikan untuk memasukan teknologi informasi menjadi bagian dari kurikulum sekolah. Pada kondisi yang ideal, dengan infrastruktur tersedia, maka saya sebetulnya lebih suka melihat teknologi informasi menjadi alat bantu bagi semua mata pelajaran sekolah, baik itu mata pelajaran IPA, IPS, bahasa, sejarah, dll. Saya justru tidak suka melihat teknologi informasi menjadi mata pelajaran tersendiri di sekolah, khususnya di tingkat SD. Tentunya kondisi ideal ini hanya mungkin dilakukan di sekolah-sekolah yang baik, dengan guru yang qualified, infrastruktur komputer, jaringan internet tersedia dan umumnya berada di kota besar.

Pada tingkat SMU, listrik & telepon umumnya ada & guru lebih terdidik. Beberapa langkah praktis yang perlu dilakukan:

1. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah training for trainer. Contoh nyata adalah yang dilakukan oleh IT Center, Surabaya oleh inisiatif guru-guru SMK DIKMENJUR untuk memberikan training komputer bagi 1000 guru di Surabaya.
2. Gunakan pola mendanai diri sendiri untuk pengadan komputer maupun operasional akses ke Internet. Dengan harga komputer pentium III kelas bawah Rp. 1.5 juta, dan biaya akses Internet Rp. 10.000,- / jam. Dengan biaya Rp.3000 / murid / bulan menggunakan konfigurasi LAN 9 komputer, Mail Server Lokal dengan total investasi mendekati Rp. 20 juta, maka modal akan kembali dalam waktu satu (1) tahun. Detail perhitungan bisnis plan dalam bentuk Excel untuk menyambungkan sekolah yang murah dapat di peroleh dari saya via e-mail onno@indo.net.id. Alternatif konfigurasi infrastruktur saya jelaskan lebih detail di majalah infokomputer.
3. Bermula dari sebuah komputer sebagai alat bantu untuk perolehan pengetahuan melalui CD-ROM, copy harddisk, atau Internet sebagai referensi pengetahuan. Sebaiknya tidak memfokuskan pada skill komputer sebagai alat bantu editor teks.

Untuk memberikan gambaran, bayangkan jika para siswa di wajibkan mencari jawaban pekerjaan rumahnya di http://www.google.com. Dengan pertanyaan (misal)-nya, siapakah R.A. Kartini? Apakah Borobudur? Terangkan berbagai jenis Pokemon? Coba pelajari tentang asal muasal Spiderman? Saya yakin bahwa akan kaget akan besarnya informasi yang di peroleh melalui Internet, dan umumnya tidak terdapat di buku cetak sekolah.

Belajar sambil bermain dengan komputer & internet, sehingga mengintegrasikan penggunaan komputer sebagian alat bantu belajar, mencari informasi, mengumpulkan informasi, belajar membaca bahasa inggris, tetapi bukan komputer sebagai objek belajar. Hal ini sangat penting artinya khususnya di kelas-kelas awal sekolah dasar (SD).

Kesalahan yang paling fatal dalam proses integrasi teknologi informasi ke kurikulum sekolah adalah menjadikan teknologi informasi sebagai objek belajar, bukan sebagai alat bantu belajar. Saya yakin DIKNAS akan terjerat dalam pusaran negatif jika memposisikan teknologi informasi sebagai objek belajar.

Dengan cara demikian, DIKNAS tidak perlu terlalu pusing untuk memikirkan mencari dana / proyek / utangan bank dunia untuk membuat materi belajar teknologi informasi bagi sekolah-sekolah.

Bagi sekolah yang betul-betul tidak mampu, sebetulnya banyak inisiatif di luar yang berusaha membantu dunia pendidikan dengan pinjaman komputer, hibah komputer, bantuan pengajaran dll, seperti yang dilakukan oleh Internet Goes To School Telkom, Acara Turun Gunung ICT Watch, Sekolah 2000 APJII dll.

Langkah selanjutnya khususnya untuk tingkat SMP & SMU / SMK adalah menjadi teknologi informasi sebagai sarana pertukaran pengetahuan, baik yang bersifat eksplisit (tertulis) maupun implisit (dalam kepala). Bagaimanakah langkah yang praktis, sederhana, biaya murah, tidak membebani APBN, tidak perlu proyek, tidak perlu hutang ke Bank Dunia, atau IMF dsb?

Dalam penjelasan berikut saya coba ketengahkan beberapa langkah sederhana tapi sudah di coba di beberapa sekolah maupun mahasiswa saya sendiri dan hasilnya cukup manjur. Perlu kita sadari bersama, bahwa pada tingkat SMP apalagi SMU, seringkali murid lebih pandai dari guru-nya untuk melakukan manouver menggunakan komputer dan Internet.

Filosofi yang di tekankan adalah:

“Nilai seseorang tergantung pada manfaat seseorang pada masyarakat sekitarnya”

Langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Gunakan komputer & Internet sebagai media untuk ngobrol, untuk bertukar pengetahuan implisit. Caranya relatif sederhana, menggunakan fasilitas e-mail dan mailing list. Umumnya servis mailing list dapat di peroleh secara gratis di Internet. Biaya yang dibutuhkan untuk ini semua dapat di tekan menjadi sekitar Rp. 45-100.000,- / sekolah / bulan, jik operator sekolah cukup pandai untuk mengkonfigurasi server mail server dengan sambungan dial-up.
2. Siswa sebaiknya di dorong untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di mailing list, selain untuk mengasah pengetahuannya juga untuk sharing pengetahuannya.
3. Jangan kaget jika 2-4 tahun mendatang, mereka yang aktif menjawab pertanyaan di mailing list akan cakap membuat pengetahuannya sendiri, menulis artikel, menulis buku menjadi produsen pengetahuan itu sendiri. Akan lebih baik lagi jika seorang siswa yang mampu menuliskan ilmu / pengetahuannya dalam bentuk artikel / buku memperoleh kredit bagi pelajarannya sukur-sukur dapat memperoleh imbalan honor dari majalah atau penerbit yang menerbitkannya.
4. Ada baiknya semua tugas siswa yang bentuknya softcopy, di kumpulkan di sebuah harddisk atau web, untuk memudahkan sharing pada rekan-rekan lain, sharing antar sekolah maupun sebagai referensi bagi adik-adiknya di kemudian hari. Hal ini saya lakukan dengan cara mengumpulkan berbagai tulisan dalam bentuk softcopy di harddisk dan menyebarkannya.

Yang kita perlu sadari bersama bahwa langkah / proses di atas juga akan melakukan tekanan psychologis terhadap siswa untuk bekerja dengan baik, karena hasil karyanya, jawaban pertanyaannya akan dapat di baca oleh orang banyak melalui Internet. Pekerjaan yang tidak baik akan mencoreng namanya di kemudian hari.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi masukan bagi integrasi teknologi informasi ke dalam kurikulum sekolah di Indonesia. Mudah-mudahan bukan sebuah impian di siang bolong untuk dapat melihat 48 juta siswa Indonesia berada di Internet (Onno W. Purbo)..

e-Banking

Secara umum akan ada dua (2) hal besar di dunia perbankan yang dapat terasa manfaatnya,

1. Interaksi di sisi customer / client.
2. Beberapa isu interaksi / clearing antar Bank.

Hal yang paling kritis dalam aplikasi keuangan / perbankan terutama adalah masalah security. Kegagalan sisi keamanan jaringan akan dapat menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi industri perbankan. Secara umum arsitektur keamanan jaringan sebetulnya cukup kompleks. Untuk melihat tingkat kompleksitas teknologi keamanan jaringan, dapat dilihat dengan seksama berbagai komponen keamanan jaringan pada gambar terlampir.


Secara umum ada empat (4) aspek keamanan jaringan, yaitu:
• Penetration testing
• Certificate Authority / PKI
• Vulnerability Testing
• Managed Security Services

Masing-masing aspek akan mencakup yang yang cukup kompleks, misalnya, aspek Penetration Testing meliputi Active Content Monitoring / Filtering, Intrusion Detection – Host Based, Firewall, Intrusion Detection – Network Based, Authorization, Air Gap Technology, Network Authentication, Security Appliances. Aspek Certificate Authority / Public Key Infrastructure meliputi hal Certificate Authority, File & Session Encryption, VPN & Cryptographic Communications, Secure Web Servers, Single Sign On, Web Application Security. Tentunya merupakan cabang ilmu tersendiri untuk menjamin sebuah infrastruktur yang sangat aman. Saran bagi pembaca yang ingin mendalami lebih lanjut, sangat di sarankan untuk membaca-baca http://www.sans.org dan http://rr.sans.org. Bagi pembaca yang ingin melihat bagaimana teknik-teknik hacking yang terbaru mungkin ada baiknya membaca http://packetstormsecurity.org. Mohon berhati-hati dalam mendalami ilmu keamanan jaringan jangan sampai terbakar sendiri.

Sebagian besar dari teknologi keamanan jaringan sebetulnya tersedia secara terbuka (open source). Misalnya untuk certicicate authority / PKI saya biasanya menggunakan openSSL; Untuk secure web transaction biasanya digunakan standard secure HTTP (https); untuk membangun Virtual Private Network antar bank biasanya digunakan Free Secure Wide Area Network (FreeSWAN). Semua biasanya tersedia di berbagai distribusi Linux.

Dengan menguasai teknik keamanan jaringan dan mampu membuat aman-nya jaringan maka bukan mustahil kita dapat lebih mengeffisienkan infrastruktur backoffice industri perbankan. Bukan mustahil kita dapat menggunakan infrastruktur yang berbasis Internet dan IntraNet sebagai backbone infrastruktur per bankan. Terutama untuk menjangkau bank-bank cabang atau bank bergerak di daerah urban, sub-urban bahkan daerah rural dan remote jika di inginkan.

Yang akan menjadi lebih seru lagi adalah jika clearning antar Bank yang biasanya dilakukan melalui Bank Indonesia dapat dikembangkan secara online. Setahu saya hal ini sedang terjadi di Bank Indonesia. Yang tentunya akan menjadi tantangan yang lumayan membuat kepala pusing para pimpinan Bank yang biasanya mempunyai background non-teknik. Dengan semakin effisien-nya mekanisme clearning, maka jumlah transaksi akan dapat berlipat ganda dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Di sisi pelanggan / pengguna jasa Bank, perkembangan teknologi tidak kalah menarik. Secara umum ada dua (2) teknologi yang menjadi basis interaksi dunia perbankan dengan pelanggannya agar dapat dilakukan transaksi secara on-line dan transaksional, yaitu,

• Selular Telepon.
• Internet

Secara umum telepon selular menjadi lebih menarik karena jumlah pelanggan yang lebih dari 10 juta pelanggan, sedang Internet hanya sekitar 4 juta saja. Bahkan berdasarkan berita di http://www.cellular-news.com, menurut CSFB, Indonesia termasuk yang mempunyai potensi yang sangat besar, rangking ke dua di Asia Pacific bagi pertumbuhan pengguna selular dengan tambahan sekitar 2.14 pelanggan di akhir tahun 2002 yang lalu. Tentunya akan bertambah seru lagi dengan semakin banyaknya operator yang menggelar infrastruktur selular.

Internet banking, melalui web dan e-mail, dapat menjadi fasilitas transaksi terutama untuk corporate customer karena pada hari ini cukup banyak kantor yang sudah on-line 24 jam ke Internet. Teknologi keamanan jaringan yang di jelaskan di atas juga telah cukup mapan, terutama jika digunakan enkripsi dengan panjang kunci 128 bit pada akses web bertumpu pada teknologi OpenSSL; 1024 bit pada transaksi e-mail bertumpu pada teknologi GnuPG di tambah teknologi One Time Password, seperti BCA-key di BCA, cukup handal untuk menjamin keamanan transaksi. Seperti hal-nya corporate banking lainnya sangat di untungkan karena transaksi yang diproses tidak banyak tapi mengalirkan uang dengan berjumlah sangat besar. Transaksi jenis ini justrun yang paling menguntungkan untuk dunia perbankan karena termasuk kategori transaksi Business To Business (B2B).

Berbeda dengan InterNet Banking, pada end-user atau customer biasa, aplikasi yang jelas-jelas akan menjangkau banyak massa adalah Short Message Services (SMS) yang jelas akan menjangkau banyak sekali pelanggan. Salah satu keuntungan dengan adanya teknologi selular bagi dunia pelanggan adalah sistem authentikasi yang sudah built-in dalam infrastruktur telepon selular. Authentikasi akan sangat memudahkan bagi dunia perbankan untuk melakukan mapping antara pelanggan / client antara dunia perbankan dengan dunia selular melalui nomor telepon dan nomor account.

Ada cukup banyak forum open standar untuk transaksi SMS, MMS, WAP yang menstandarisasi teknologi messaging antar pengguna selular telepon, diantaranya adalah http://www.openmobilealliance.org, http://www.smsforum.net dan http://www.nowsms.com. Bagi mereka yang ingin membuat sendiri gateway WAP dan SMS menggunakan solusi open source yang terbuka dapat berexperimen dan mencobanya dari http://www.kannel.org.

Adanya Internet Banking dan Mobile Banking akan menjadi lebih semarak lagi, jika saja ada kerjasama yang cukup erat antara dunia perbankan, operator selular, operator Internet dengan berbagai service provider, software house untuk mengembangkan aplikasi yang lebih terintegrasi dari berbagai layanan. Contoh sederhana, memberikan informasi perbankan, apakah itu kurs valuta asing, bunga bank, proses peminjaman uang, bunga deposit dll melalui SMS, e-mail, Web.

Pada tingkat yang lebih kompleks mendukung transaksi pembelian barang, penjualan barang dengan transaksi keuangan melalui SMS, tidak hanya tergantung pada mekanisme kartu debet atau kartu kredit yang biasa. Barangkali ini merupakan perkembangan menuju mobile commerce. Tentunya dibutuhkan service provider atau software house yang mampu membangun payment gateway terutama melalui SMS antara bank, penjual dan pembeli. Terutama karena mobile commerce termasuk kategori transaksi business to customer (B2C), (Onno W. Purbo).

Demikian Susahkah Perjuangan Linux di Indonesia?


alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287622284129272610" />








Di Indonesia bulan April Mei Juni 2005, terus terang cukup memprihatinkan. Di satu sisi, polisi melalukan sweeping ke WARNET-WARNET karena menggunakan software bajakan; walaupun di sisi hukum benar, tapi di lapangan ada beberapa kejadian yang tidak baik karena adanya WARNET yang menggunakan software legal di Semarang misalnya yang tetap di sweeping. Hal ini berakibat, banyak WARNET yang menutup usahanya yang pada akhirnya justru menghalangi rakyat Indonesia untuk mengkaitkan diri ke dunia cyber.

Di sisi lain, pemerintah memberikan sinyal yang membingungkan – disatu sisi pemerintah mencanangkan “Indonesia Goes Open Source” (IGOS) di sisi lain, SBY justru bertandang ke markas Bill Gates di Seattle dan menjalin kerjasama dengan raksasa Microsoft bahkan mengclaim meminta amnesti untuk membayar US$1 untuk setiap sistem operasi Microsoft bajakan yang digunakan di komputer di kantor pemerintahan. Di samping, negosiasi untuk menjadi Indonesia salah satu pusat riset Microsoft di dunia. Sebetulnya mengerjakan salah satu dari pilihan di atas sah-sah saja hukumnya, tapi mengerjakan kedua-nya sekaligus ... hmm dunia menjadi pusing kepala, sebetulnya apa yang dicari oleh pemerintah Indonesia. Membingungkan? atau tidak dapat mengambil keputusan? entah lah.

Sebetulnya, sedemikian sukarkah kita untuk melakukan migrasi ke Linux? Jawaban singkatnya TIDAK SUKAR. Mari kita lihat secara agak lebih detail apa yang di tawarkan oleh Linux. Dari sisi Server, terus terang kebanyakan orang, kantor, perusahaan akan lebih suka memilih Linux sebagai server daripada Microsoft karena memang Linux di lahirkan untuk di operasikan di jaringan komputer & jaringan Internet. Performance Linux jauh lebih baik di kelas server di bandingkan dengan Micrsoft Windows 2000 & 20003.

Pertanyaannya tinggal, apakah kita dapat melakukan migrasi yang sama untuk desktop? Jika anda membutuhkan desktop untuk akses Internet Web, Messenger, E-mail dan Office (Word dan Power Point) sebetulnya apa yang ditawarkan Linux sudah lebih dari memadai daripada apa yang di tawarkan Windows. Bagi anda yang biasa menggunakan Microsoft Office tidak akan terlalu kaget dengan tampilan dan navigasi di OpenOffice karena memang tidak berbeda jauh.

Biasanya yang menjadi momok bagi para pengguna yang ingin melakukan migrasi ke Linux bukan di masalah Office atau akses ke Internet tetapi masalah di berbagai software tambahan yang biasa digunakan di Microsoft, seperti, video player, software untuk melihat gambar. Tentunya sukur-sukur jika ada hal-hal yang lebih yang ditawarkan oleh Linux.

Software grafik termasuk cukup banyak tersedia di Linux, seperti, KolourPaint equivalen dengan PaintBrush, PhotoTool untuk mengorganize foto yang kita ambil, Kooka software scanner di Linux, GIMP equivalen dengan Adobe PhotoShop, KuickShow untuk slideshow gambar dan masih banyak lagi.

Yang untuk saya pribadi sangat menarik terutama banyaknya software edutainment yang ditawarkan beberapa diantaranya adalah Kalzium untuk belajar kimia, Kstars untuk belajar bintang, Kmplot untuk belajar fungsi matematika dll.

Masih banyak hal yang dapat kita gali dari Linux seperti solusi-solusi murah menggunakan komputer 486 atau Pentium 75MHz sebagai client dari Terminal Server yang softwarenya dapat diambil secara gratis di Linux Terminal Server Project (LTSP) dan masih banyak lagi. Tapi itu semua hanya mungkin terjadi jika para birokrat dan pengambil keputusan mengerti tentang Linux, akan susah mengambil keputusan tentang open source jika tidak menjiwai open source itu sendiri (Onno W. Purbo).